"Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (JasMerah)" -Ir. Soekarno-
Ungkapan Soekarno saat pidato memeringati Hari Kelahiran Republik Indonesia (RI) mewakili pesan yang tersirat dalam film The Messenger of God.
Film yang disutradarai oleh orang Iran ini mengajak para pecinta film agar kembali mengingat sejarah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Betapa besar ghirah atau perjuangan yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dalam menegakkan Dienul Islam. Betapa besar perjuangan Assabiqunal Awwalun dalam memertahankan kalimat Tauhid hingga mereka rela disiksa bahkan mati demi yang Ahad (Allah). Dalam film ini juga, ditampakkan perjuangan keluarga Ammar bin Yasir yang kedua orangtuanya wafat karena memertahankan keyakinannya. Mereka rela berjihad dan berhijrah menyebarkan virus keIslaman ratusan mil jauhnya tanpa mengenal panas dan garangnya padang pasir.
Film yang berdurasi sekitar 2 jam ini pun mengingatkan pada kita semua, Islam itu agama pembawa kedamaian. Islam itu bukanlah teroris. Dibuktikan dengan adegan peristiwa Fathu Mekkah (Pembebasan Mekkah). Di sana, orang Quraisy yang belum mau menerima hidayah agar masuk Islam tidak dibantai, justru mereka dilindungi oleh orang-orang Muslim.
Pesan lain dalam film sejarah ini ialah sosok Nabi Muhammad Saw yang tidak diperlihatkan atau diperankan oleh siapa pun. Artinya tidak ada pelecehan di dalamnya dan menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan seorang pengirim kabar gembira, penyampai risalah agama sangat dihormati dan sangat dimuliakan.
Film ini sangat cocok bagi siapapun. Bagi yang ingin mengenal Islam atau yang sudah mengenal Islam.
Demikian review film The Messenger of God. Pesan bagi setiap insan, jangan lupakan sejarah. Karena dalam sejarah, ada Ibrah atau pelajaran yang bisa membangun peradaban di masa depan.
Wallahu a'lam.
Ungkapan Soekarno saat pidato memeringati Hari Kelahiran Republik Indonesia (RI) mewakili pesan yang tersirat dalam film The Messenger of God.
Film yang disutradarai oleh orang Iran ini mengajak para pecinta film agar kembali mengingat sejarah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Betapa besar ghirah atau perjuangan yang dilakukan oleh Nabi dan para sahabatnya dalam menegakkan Dienul Islam. Betapa besar perjuangan Assabiqunal Awwalun dalam memertahankan kalimat Tauhid hingga mereka rela disiksa bahkan mati demi yang Ahad (Allah). Dalam film ini juga, ditampakkan perjuangan keluarga Ammar bin Yasir yang kedua orangtuanya wafat karena memertahankan keyakinannya. Mereka rela berjihad dan berhijrah menyebarkan virus keIslaman ratusan mil jauhnya tanpa mengenal panas dan garangnya padang pasir.
Film yang berdurasi sekitar 2 jam ini pun mengingatkan pada kita semua, Islam itu agama pembawa kedamaian. Islam itu bukanlah teroris. Dibuktikan dengan adegan peristiwa Fathu Mekkah (Pembebasan Mekkah). Di sana, orang Quraisy yang belum mau menerima hidayah agar masuk Islam tidak dibantai, justru mereka dilindungi oleh orang-orang Muslim.
Pesan lain dalam film sejarah ini ialah sosok Nabi Muhammad Saw yang tidak diperlihatkan atau diperankan oleh siapa pun. Artinya tidak ada pelecehan di dalamnya dan menjadi bukti bahwa Nabi Muhammad Saw merupakan seorang pengirim kabar gembira, penyampai risalah agama sangat dihormati dan sangat dimuliakan.
Film ini sangat cocok bagi siapapun. Bagi yang ingin mengenal Islam atau yang sudah mengenal Islam.
Demikian review film The Messenger of God. Pesan bagi setiap insan, jangan lupakan sejarah. Karena dalam sejarah, ada Ibrah atau pelajaran yang bisa membangun peradaban di masa depan.
Wallahu a'lam.
Labels:
Opini
Thanks for reading The Messenger of God: Jangan Lupakan Sejarah. Please share...!

0 Comment for "The Messenger of God: Jangan Lupakan Sejarah"